Oleh : Hamdan Husen Siregar (Ketua Litbang HIMLAB RAYA Jakarta)
JELAJAH. Pemilu legislatif telah berlalu meninggalkan kita, selanjutnya kita akan memilih pemimpin republik ini untuk 5 tahun ke depan. Pada hajatan demokrasi yang digelar 5 tahun ini semua masyarakat berharap agar para caleg yang lolos ke parlemen adalah orang yang berkualitas. Para caleg pun sudah harap-harap cemas apakah mereka beruntung di kompetisi ini atau malah buntung. Pasalnya tidak sedikit dari mereka telah mengeluarkan dana yang cukup besar baik untuk sumbangan partai, maupun untuk pegadaan atribut kampanye, dan lain-lain. Ini semua mereka lakukan hanya untuk mengambil hati rakyat agar memilih mereka dan mendapatkan tiket ke parlemen.
Memang, dalam pesta demokrasi pasti mengeluarkan banyak biaya. Baik yang dikeluarkan negara sebagai anggaran pemilu, maupun yang dikeluarkan partai politik dan calon. Tapi itu semua tidak menyurutkan semangat para calon untuk mengikuti kompetisi ini, malah mereka semakin berani walaupun menggunakan cara-cara yang telah dilarang oleh undang-undang, termasuk menggunakan money politic atau politik uang.
Celakanya, rakyat juga senang kalau ada caleg atau tim sukses yang memberi mereka uang atau sebagainya agar memilih orang tertentu di hari pencoblosan. Salah seorang pengurus parpol Islam juga mengakui bahwa politik uang masih berlaku di masyarakat, bahkan semakin meningkat. Seharusnya, kalau masyarakat sudah cerdas yang ia lakukan ketika ada yang menawarkan uang adalah menolak, melaporkan, dan yang penting tidak memilih calon tersebut. Tapi kenyataannya dilapangan berbeda dengan harapan kita yang semestinya.
Kalau sudah begini, siapa yang harus disalahkan ketika caleg terpilih mereka lebih mendahulukan pengembalian modal dari pada bekerja sebagi wakil rakyat. Tampaknya keadaan kita tidak akan jauh berubah kalau yang terpilih sebagai wakil rakyat di parlemen adalah orang-orang yang menggunakan cara tidak sehat dalam prosesnya. Dalam proses mereka saja sudah salah, apalagi tujuan mereka untuk duduk sebagai wakil rakyat. Kita semua pasti tahu jawabannya.
Memang, dalam pesta demokrasi pasti mengeluarkan banyak biaya. Baik yang dikeluarkan negara sebagai anggaran pemilu, maupun yang dikeluarkan partai politik dan calon. Tapi itu semua tidak menyurutkan semangat para calon untuk mengikuti kompetisi ini, malah mereka semakin berani walaupun menggunakan cara-cara yang telah dilarang oleh undang-undang, termasuk menggunakan money politic atau politik uang.
Celakanya, rakyat juga senang kalau ada caleg atau tim sukses yang memberi mereka uang atau sebagainya agar memilih orang tertentu di hari pencoblosan. Salah seorang pengurus parpol Islam juga mengakui bahwa politik uang masih berlaku di masyarakat, bahkan semakin meningkat. Seharusnya, kalau masyarakat sudah cerdas yang ia lakukan ketika ada yang menawarkan uang adalah menolak, melaporkan, dan yang penting tidak memilih calon tersebut. Tapi kenyataannya dilapangan berbeda dengan harapan kita yang semestinya.
Kalau sudah begini, siapa yang harus disalahkan ketika caleg terpilih mereka lebih mendahulukan pengembalian modal dari pada bekerja sebagi wakil rakyat. Tampaknya keadaan kita tidak akan jauh berubah kalau yang terpilih sebagai wakil rakyat di parlemen adalah orang-orang yang menggunakan cara tidak sehat dalam prosesnya. Dalam proses mereka saja sudah salah, apalagi tujuan mereka untuk duduk sebagai wakil rakyat. Kita semua pasti tahu jawabannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar