Jumat, 23 Mei 2014

Dimana Suara dan Tinjumu..?


Oleh: Ridho Akmal Nasution (Mahasiswa Pascasarjana Hukum UI)

“Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka kemajuan sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia.”
(Pramoedya Ananta Toer)

JELAJAH. Reformasi terlanjur merubah tatanan sosial politik Orde Baru menjadi lebih demokratis. Perubahan tersebut didasarkan pada harapan akan hadirnya sistem politik yang menghargai kedaulatan rakyat. Reformasi dan perubahan merupakan dua kata yang tidak bisa dipisahkan. Semangat reformasi adalah semangat perubahan terhadap semua tatanan di semua lini untuk mencapai cita-cita reformasi sebagaimana yang pernah diteriakkan. Semangat yang mungkin hanya bagi mereka yang masih peduli akan kepentingan sesama saat itu. Terlepas dari apa motif yang membakar kaum muda waktu itu untuk bergerak meneriakkan perubahan.
   Melihat kondisi yang ada saat itu menjadi buah bibir para kalangan mahasiswa untuk selalu di garda terdepan dalam memberikan perubahan dan mengawal setiap kebijakan yang ada di negeri ini. Mahasiswa dan gerakannya sudah menjadi semacam mitos dalam panggung perpolitikan Republik Indonesia. Didakwa sebagai pahlawan yang berjasa melengserkan para pemimpin otoriter dari kursi kekuasaannya di masa silam, kisah heroik tentang mahasiswa terus dirawat dan ditularkan agar para mahasiswa terus-menerus dapat menjadi semacam ratu  adil yang turun dari singgasananya kelak sehingga dapat memperbaiki keadaan masyarakat ketika kondisi kezaliman mulai merajalela kembali.
   Namun saat ini, teriakan itu hilang entah kemana. Mungkin hilang bersama hembusan angin, atau lenyap ditelan oleh bumi. Atau mungkin hilang bersama hembusan angin, atau lenyap ditelan oleh bumi. Atau mungkin telah terbungkamnya teriakan tersebut dalam wadah kepentingan sesaat. Apapun alasannya saat ini kaum muda sudah kehilangan semangat kepedulian terhadap kaum minoritas yang tertindas. Baik itu dalam struktural maupun kultural. Kurangnya solidaritas dan konsolidasi antar kaum muda begitu terlihat. Tidak hanya itu kepentingan para kaum muda saat ini terpusat pada golongan-golongan yang mereka geluti. Sehingga tak dapat dipungkiri, kepentingan kolektif sebagai lokomotif perubahan bagi bangsa tergadaikan dengan sendirinya oleh gumpala-gumpalan kepentingan kelompok saja. Tak hanya itu, peta gerakan pemuda dan mahasiswa kian lama kian sepi, hal ini tentunya tingginya tuntutan yang berfokus pada kesibukan internal kampus dan kelompok masing-masing sehingga solidaritas antar sesama dalam memberikan ide dan gagasan terlupakan begitu saja.
   Bangsa ini kehilangan,  kehilangan suara dan tinju para generasi mudanya yang suka memberikan sumbangsih gagasan. Gagasan segar yang lahir dari teriakan-teriakan dapat memberikan angin perubahan bagi bangsa ini. Namun saat ini gerakan-gerakan ini terlanjur terkontaminasi dengan kepentingan personal atau kelompok. Apapun bentuk kepentingan itu saat ini perlu di-review­ lagi bagi siapapun yang masih perduli akan perjuangan dan gerakan generasi muda kedepannya. Dengan mulai berpikir dan bertindak secara relevan, gerakan mahasiswa sejatinya tidak akan kehilangan  ruh dan perjuangannya, kecuali mereka yang membelenggu dan membungkam diri mereka sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar