Jumat, 23 Mei 2014

Kini HIMLAB Eksis di Layar Kaca Nasional

Doc.
JELAJAH. Tidak bisa dipungkiri forum-forum diskusi akan menambah angin informasi dan wawasan bagi kalangan mahasiswa. Apalagi forum diskusi tersebut berkelas seperti acara yang disodorkan oleh program televisi nasional.
Belakangan ini mahasiswa tergabung dalam Himpunan Mahasiwa Labuhanbatu (HIMLAB) Raya Jakarta yang berdomisili di Ibukota Jakarta sering mendapat undangan istimewa dari acara diskusi di layar kaca. Seperti program acara Lawan Bicara dan Sentilan Sentilun (Metro Tv), ILC (TV One), serta Empat Pilar Berbangsa (TVRI Pusat).
Ketua HIMLAB Jakarta Ginanda Siregar mengatakan, momen ini harus ditangkap dan dimanfaat kalangan mahasiswa, karena selain materinya bagus, juga menghadirkan para tokoh terkemuka dengan mengangkat isu kekinian.
"Acara ini sangat bagus dalam rangka mempererat hubungan dengan semua media, dan yang paling penting teman-teman dapat wawasan yang luas," ujarnya di Jakarta (25/4/2014).
Ginanda menjelaskan, HIMLAB sebagai organisasi kemahasiswaan yang merupakan bagian agent of change atau agen perubahan tidak bisa dikesampingkan peranannya dalam pembangunan bangsa dan negara. Dengan hadirnya kader-kader HIMLAB di acara diskusi berkelas tersebut diharapkan melahirkan ide dan pemikiran yang cemerlang hingga bisa dikemas dalam sebuah aksi.
"Dari acara-acara tersebut mudah-mudahan kita bisa menyusun program kerja HIMLAB yang lebih produktif dan inovatif," tandas mahasiswa hukum UMJ ini. [hmd]

PERJALANAN SANG PEJUANG

Langkah demi langkah aku jalani
Rintangan demi rintangan aku hadapi
Lautan ku layari
Daratan ku jalani
Langit ku daki
Berbekalkan lidah dan semangat
Hanya do’a dan usaha yang ku perbuat
Walau ombak menerjangku
Bumi menjatuhkanku
Angin menghembusku
Namun aku takkan menyerah
Karena ini untukku
Ini untuk hidupku
Untuk menempuh cita-citaku

Oleh : Abdul Rasyid Tanjung

BUKAN POLITISI

Kau baca syair tanpa naluri
Kau simpan senyum tanpa isi
Kau dekat kini nanti kau lari
Kau adalah politisi...
Janji mu hanya hiasan bibir
Sumpah mu hanya sebatas umbar
Aksi mu hanya bak air
Kau adalah politisi...
Saat Rapat kau tak hadir
Saat bela rakyat kau tak tegar
Saat sumpah ditagih kau nyengir
Kau adalah politisi...
Kau diam seperti punya hati
Kau lari dari janji
Kau pendusta tak takut Ilahi
Kau adalah politisi...
 
Oleh : Ruslan Tambak

Rapor Timnas- U19 Pasca Tur Timur Tengah dan Nusantara

Laporan: Ardian
 
Foto (net)
JELAJAH. Usai sudah tur TIMNAS U-19 di timur tengah dan nusantara dengan hasil yang sangat membanggakan, dan patut diacungi jempol dimulai laga perdana tanggal 9 April, Kalah 1 - 2 dari Oman, dilanjut ke pertemuan kedua 11 April, dan berhasil menang 2 - 1, dan diberikutnya tanggal  14 April, Menang 4 - 1 atas Timnas U-19 UEA, begitu juga dipertemuan kedua tanggal  16 April, Timnas U19 kembali menang 2 - 1 atas Timnas U-19 UEA, selanjutnya  18 April dipertandingan terakhir untuk Tur Timur Tengah ini bermain imbang 2 - 2 dengan klub Al Shabab, dan Tur Nusantara  dari  13 kali pertemuan  timnas U-19 tak terkalahkan dengan 9 kali menang dan 4 kali dengan hasil imbang.  
   Tentunya banyak hal yang positif yang bisa diperoleh oleh  timnas U-19 Selama melakukan tur timur tengah dan tur nusantara, sebagaimana kita ketahui bersama bahwa punggawa muda timnas U-19 memiliki mental yang lemah, apabila main di kandang lawan,dan mental kuat hanya bermain di kandang sendiri? akan tetapi semua sekarang menjadi jelas mereka melewatinya dengan hasil yang gemilang meraih 3 kali menang, 1 kali kalah dan 1 kali dengan hasil imbang. 
   Kalau adapun yang harus di benahi itu sudah menjadi PR bagi sang pelatih INDRA SJAFRI  dan juga mengakui masih ada kelemahan yang harus di benahi dari tim ini,  yakni antisipasi BOLA CROSSING, semua itu dapat dilihat dari 5 pertandingan tur timur tengah, timnas U-19 Selalu kebobolan lewat  bola crossing,  Dan sesuai pemberitaan yang ada beberapa program lagi telah dipersiapkan oleh Badan Tim Nasional untuk Timnas U-19 ini sebelum berlaga di partai puncaknya Oktober nanti di Final Piala Asia    U-19 di Myanmar nanti, salah satunya akan kembali menjalani Tur Nusantara II dan Tur Eropa. [bt]

Jalan Panjang Menuju Penerbitan Buletin Himlab

Laporan: Hamdan Husen Siregar
 
JELAJAH. Berawal dari diskusi mingguan yang diadakan oleh kader Himlab Raya Jakarta dan Sekitarnya pada 14 maret 2014, pada saat itu yang menjadi pemateri adalah Ruslan Tambak dengan tema “Menjadi Jurnalis yang Baik”. Setelah itu para kader dan peserta yang hadir diminta komitmennya untuk membuat sebuah bulletin yang akan dikelola oleh kader Himlab. Mulanya ada beberapa yang ragu-ragu untuk ikut berperan di sini, hal ini dikarenakan sebagian kader belum merasa ahli dalam bidang jurnalistik dan ketiaadaan anggaran. Namun, setelah Ruslan meyakinkan bahwa ia akan siap membimbing dan membantu mencarikan dana sebagai anggaran bulletin ini, barulah keraguan itu hilang. Dan kita pun sepakat akan membahasnya lebih lanjut pada diskusi minggu yang akan datang.
   Pada diskusi selanjutnya adalah tindak lanjut dari kesepakatan sebelumnya yaitu pemberian nama bulletin ini dan pembentukan dewan redaksinya. Setelah melalui diskusi yang cukup alot dan menimbang beberapa saran yang masuk, maka disepakati pemeberian nama bulletin ini dengan “JELAJAH”  dengan jargon “Ekspresikan Pendapat Pecahkan Masalah”. Sedangkan untuk susunan redaksi, forum sepakat untuk mengangkat saudara Hamdan Husen Siregar sebagai Pemred buletin ini, sedangkan saudara Ginanda Siregar sebagai ketua umum Himlab diangkat sebagai pimpinan umum bulletin ini. Dan untuk Ruslan  menggagas terbentuknya bulletin ini sebagai redaktur senior didampingi oleh Ridho Akmal dan A Fauzi Siregar. Adapun teman-teman yang hadir lainnya ditempatkan dalam posisi reporter pelaksana. Malam itu juga dibagi tugas-tugas perorang untuk mengisi halaman-halaman dengan berita.
   Diskusi selanjutanya diadakan pelatihan peliputan berita bagi seluruh tim redaksi. Pelatihan kali ini dibimbing oleh Ruslan, sebagai seorang yang telah banyak makan asam garam dalam dunia jurnalistik, beliau dengan semangat dan penuh kesabaran membimbing adik-adiknya. Para peserta pun tampak antusias mendengarkan pemaparan tersebut.
   Rencanya buletin ini akan terbit pada 20 April, namun ada beberapa kendala yang dihadapi oleh para reporter dalam meliput berita. Selain itu agenda yang berbenturan dengan perkuliahan rekan reporter membuat peliputan berita tertunda. Namun berkat kegigihan tim redaksi baru hari ini (Sabtu, 3/5) “JELAJAH” dapat hadir di tangan pembaca. [hmd]

Menunggu Wakil Rakyat yang Benar-benar Mewakili Rakyat

Oleh : Hamdan Husen Siregar  (Ketua Litbang HIMLAB RAYA Jakarta) 
JELAJAH. Pemilu legislatif telah berlalu meninggalkan kita, selanjutnya kita akan memilih pemimpin republik ini untuk 5 tahun ke depan. Pada hajatan demokrasi yang digelar 5 tahun ini semua masyarakat berharap agar para caleg yang lolos ke parlemen adalah orang yang berkualitas. Para caleg pun sudah harap-harap cemas apakah mereka beruntung di kompetisi ini atau malah buntung. Pasalnya tidak sedikit dari mereka telah mengeluarkan dana yang cukup besar baik untuk sumbangan partai, maupun untuk pegadaan atribut kampanye, dan lain-lain. Ini semua mereka lakukan hanya untuk mengambil hati rakyat agar memilih mereka dan mendapatkan tiket ke parlemen.
   Memang, dalam pesta demokrasi pasti mengeluarkan banyak biaya. Baik yang dikeluarkan negara sebagai anggaran pemilu, maupun yang dikeluarkan partai politik dan calon. Tapi itu semua tidak menyurutkan semangat para calon untuk mengikuti kompetisi ini, malah mereka semakin berani walaupun menggunakan cara-cara yang telah dilarang oleh undang-undang, termasuk menggunakan money politic atau politik uang.
   Celakanya, rakyat juga senang kalau ada caleg atau tim sukses yang memberi mereka uang atau sebagainya agar memilih orang tertentu di hari pencoblosan. Salah seorang pengurus parpol Islam juga mengakui bahwa politik uang masih berlaku di masyarakat, bahkan semakin meningkat. Seharusnya, kalau masyarakat sudah cerdas yang ia lakukan ketika ada yang menawarkan uang adalah menolak, melaporkan, dan yang penting tidak memilih calon tersebut. Tapi kenyataannya dilapangan berbeda dengan harapan kita yang semestinya.
   Kalau sudah begini, siapa yang harus disalahkan ketika caleg terpilih mereka lebih mendahulukan pengembalian modal dari pada bekerja sebagi wakil rakyat. Tampaknya keadaan kita tidak akan jauh berubah kalau yang terpilih sebagai wakil rakyat di parlemen adalah orang-orang yang menggunakan cara tidak sehat dalam prosesnya. Dalam proses mereka saja sudah salah, apalagi tujuan mereka untuk duduk sebagai wakil rakyat. Kita semua pasti tahu jawabannya.

Masuk Politik Atau Tidak?

 Oleh: Ruslan Tambak (Mahasiswa Komunikasi Politik Pascasarjana UMJ)

JELAJAH. Politisi Kutu Loncat dari satu partai ke partai lain adalah hal yang biasa dilihat di Negeri ini. Tidak hanya itu, Bupati/Walikota aktif yang mencalonkan diri menjadi calon gubernur (cagub) banyak juga ditemukan di sekeliling.
   Artinya apa? Pada dasarnya orang yang melakulan hal itu diperbolehkan atau dilegalkan oleh konstitusi (tidak dilarang dan tidak melanggar UU).
Namun secara etika (subtansi) politik, hal ini sangat memalukan sekaligus menyedihkan generasi muda, sebab para politisi kutu loncat bisa dinilai sebagai poltisi transaksional dan paragmatis serta merusak tatanan nilai demokrasi. Selain itu, partai yang ditunggangi politisi tersebut bisa dikatakan partai politik yang tidak memiliki ideologi.
Selanjutnya, para Bupati/Walikota yang mencalonkan diri menjadi calon gubernur adalah figur yang lari dari tanggung jawab. Dia meninggalkan konsetuennya (rakyat) yang ia janjikan bersama selama lima tahun, ini artinya dia raib dari tanggung jawab demi mengincar jabatan lain yang lebih tinggi.
  Namun dapat dipahami, jabatan eksekutif (Bupati/Walikota/Gubernur/Menteri/Presiden) dan legeslatif (DPRD I, DPRD II dan DPR RI) diraih dari jalur politik. Dimana jabatan itulah yang membuat regulasi dan kebijakan yang nantinya akan membantu meringankan beban rakyat yang bermuara pada mensejahterakan rakyat. Dan tidak sedikit melalui jabatan itu juga, rakyat terus dibebani dan 'diperkosa' melalui kebijakan yang tidak pro dan anggaran yang disuntik.
  Entahlah? Apakah kita akan memilih jalur hidup politik atau anti politik, tentu maksud saya partai politik praktis. Pilih saja, toh semua gratis kok. Menurut saya secara singkat. Politik itu akan ramah bagi yang sopan dan jujur, sebaliknya politik itu akan menjadi biadab bagi yang rakus dan menghalalkan semua cara.