Jumat, 31 Oktober 2014

Kritik Nalar Gerakan Mahasiswa

Oleh : Raidong Rambe (Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Paramadina)
 
(Foto: Doc)
Pendahuluan
Ketika mendengar gerakan mahasiswa kita akan akrab dengan istilah agent of change atau agent of control. Secara terminologis istilah ini dapat diartikan suatu gerakan (aktivitas) disuarakan mahasiswa dalam memperbaiki ataupun mengontrol kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat kecil.
Sedangkan secara genealogis-historis, istilah agent of change atau agent of control, dapat diartikan bahwa mahasiswa sebagai kelas menengah (the middle class), kaum terpelajar dan terdidik, yang memperjuangkan bangsa dan Negara dari penjajahan bangsa asing yang menguasai negeri ini.
Sebagai kaum terpelajar, mahasiswa menyuarakan perubahan (kemerdekaan) atas penjajahan tempo dulu, ataupun kontrol terhadap kebijakan pemerintah saat ini, melalui suatu organisasi ideologis maupun akademis (kampus), sebagai wadah pengasahan diri; kepemimpinan, wawasan kebangsaan, maupun ideologi kenegaraan.
Gerakan mahasiswa (agent of change atau agent of control) tidak terlepas dari sejarah perjuagan kemerdekaan bangsa pada masa penjajahan, dan juga proses perjalanan kepemimpinan nasional hingga saat ini, sehingga gerakan perubahan yang disuarakan mahasiswa pun cenderung bersifat politik praktis.

Nalar Inlender
Gerakan mahasiswa pada masa kemerdekaan yang ikut memperjuangkan bangsa dari tangan penjajah memiliki nalar politis yang bertujuan mengusir imperialisme yang bercokol di negeri ini. Pada periode ini mahasiswa menemukan musuh bersama (common enemy), penjajah secara pisik yang ingin menguasai bangsa Indonesia.
Pasca kemerdekaan (orde lama), mahasiswa tidak dapat mengejawantahkan atau memaknai ulang filosofi of change atau of control dalam berbagai dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga nalar perubahan yang disuarakan mahasiswa masih bersifat politis. Pada masa ini musuh bersama tidak lagi bangsa asing, akan tetapi bergeser menjadi bangsa sendiri.
Begitu juga pada masa orde baru, pemerintah yang sedikit otoriter dan kebijakan Negara yang terbuka terhadap kepentingan asing, menjadikan gerakan pembaharuan (change) mahasiswa bersifat anti tesa dari program-program pembangunan, disebabkan traumatic (historis) dan romantisme perjuangan kemerdekaan dari tangan penjajah, sehingga nalar mahasiswa cenderung inlender dalam berbagai bidang kehidupan berbangsa; pendidikan, ekonomi, social budaya maupun bidang politik.
Nalar dan pola pikir mahasiswa yang anti asing atupun antek-antek penjajah terlampiaskan dalam berbagai bentuk gerakan ideologis dan partisan, mengalamai titik kulminasi pada tahun 1998, memaksa Seoharto turun dari tampuk kekuasaan, dan semangat mereformasi sistem pemerintahan yang bersifat status quo. Pada momentum ini, mahasiswa menganggap orde baru dan segala warisannya sebagai musuh bersama (common enemy).

Nalar Progresif - Kreatif
Melihat stagnasi nalar mahasiswa diatas, saat ini yang dibutuhkan adalah nalar progresif dan kreatif dalam memaknai gerakan perubahan (change). Gerakan mahasiswa tentunya tidak lagi diwujudkan dengan berjuang angkat senjata dalam medan peran fisik mengusir kaum kolonialis.
Manifestasi common enemy saat ini jelas tidak lagi mewujud dalam bentuk penjajah asing. Kolonialisme telah mewujud dalam wajah yang cenderung non-fisik, bahkan tidak jarang mahasiswa berlawanan terhadap bangsa sendiri. Karena itu, nalar gerakan yang disuarakan mahasiswa dari masa ke masa harus berbeda dengan masa sebelumnya. Aktualisasi perubahan yang diperjuangkan mahasiswa mestinya bermetamorfosis dari satu bentuk kepada bentuk lain. 
Pada masa kemerdekaan, gerakan mahasiswa identik dengan angkat senjata dan diplomasi politik melawan kolonialisme. Dan masa orde lama, identik dengan masa penuntasan agenda-agenda perjuangan yang belum selesai dalam rangka membangun nation and character building. Begitu pula orde baru yang identik dengan semangat dan partisipasi dalam pembangunan bangsa, hingga masa Reformasi, mahasiswa terlibat langsung dalam menata negeri ini menunuju bangsa yang mandiri.
Dalam hal ini, gerakan mahasiswa berpartisipasi di berbagai bidang dalam menata sistim politik, ekonomi, sosial dan budaya. Hanya saja, pada masa ini nalar dan karakter gerakan mahasiswa masih bersifat politicentris dan terpragmentasi dalam berbagai kepentingan politik sesaat. Dilain sisi sebagian mahasiswa yang apolitis atau pragmatis cenderung melupakan sejarah pergerakan kaum muda, karena arus globalisasi yang menawaran nilai-nilai baru.
Penerapan nalar progresif dan kreatif mahasiswa tentunya tidak semudah membalik telapak tangan, butuh penelusuran (genealogis-historis) kembali, dan juga pemaknaan ulang istilah  agent of change/contol yang selama ini cenderung romantisis, ke dalam makna yang lebih universal dan aplikatif dalam berbagai kehidupan berbangsa dan bernegar:
Pertama, nalar progresif dan kreatif dalam pendidikan, negeri ini jelas sangat butuh perjuangan mahasiswa dalam pendidikan. Para pendidik yang mampu mengembangkan dan menggerakkan sumber daya pendidikan bagi kemajuan dan kemakmuran bangsa. Gagasan Indonesia Mengajar yang dirintis oleh Anis Baswedan dkk, merupakan salah satu contoh menarik bagaimana perubahan di bidang ini dibangkitkan oleh kalangan kaum muda.
Kedua, nalar progresif dan kreatif dalam politik kebangsaan, negeri ini juga membutuhkan para politisi yang bercita-cita mulia membangun negeri, jujur, bersih tanpa korupsi dan benar-benar berdedikasi pada publik. Di bidang politik, perubahan jelas dibutuhkan untuk menjadikan sistem demokrasi yang telah kita kembangkan di negeri ini agar benar-benar mampu mewujudkan kemakmuran masyarakat.
Ketiga, nalar progresif dan kreatif dalam ekonomi, negeri ini sangat membutuhkan para pengusaha muda yang memiliki jiwa enterpreneurship. Kaum muda usahawan yang memiliki dedikasi kuat untuk membangun ekonomi nasional, meningkatkan pendapatan ekonomi nasional, mengikis habis kemiskinan dan kesenjangan ekonomi dan kelas sosial. Gerakan mahasiswa dalam ekonomi sangat dibutuhkan untuk mengelola sumber daya alam dana sumber daya manusia agar memiliki daya saing ditengah perekonomian global.
Keempat, nalar progresif dan kreatif dalam bidang sosial budaya, perjuangan mahasiswa untuk membangun rasa solidaritas sosial, memperkuat nilai-nilai multikultural, memperkuat sistem jaminan sosial, dan menggerakkan social capital masyarakat agar mampu menjadi perekat bagi rasa persatuan dan kesatuan, di tengah potensi ancaman konflik yang berbasis etnis, agama dan kelas sosial.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar